Penyintas Tunanetra Buat Sekolah Bagi Disabilitas


Pak Tatang, Penyintas Tunanetra yang Buat Sekolah Bagi Disabilitas

bertajuk.com - Kisah ini datang dari seorang penyintas tunanetra yang bernama Tatang. Diusianya yang sudah menginjak setengah abad ini tidak meredupkan semangatnya untuk menabung kebaikan. Meski dengan keterbatasan, tekad Tatang kuat untuk membagikan pijar pendidikan bagi penyandang disabilitas.

Sekolah yang dirintis Tatang sejak 16 tahun lalu ini, berada di Kota Bandung, tepatnya di Jalan Holis, Gang Faqih RT2/9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay. Sekolah ini dinamai SLB ABCD Caringin yang dibangun Tatang dibawah naungan Yayasan Lara Adam Mulya.

Dilansir dari Tribun Jabar, pada mulanya SLB ABCD Caringin ini hanya memiliki lima murid saat kali pertama didirikan.

"Dulu masih sulit diterima masyarakat kita pertama kali punya murid lima," ujar Tatang.

Hingga saat ini, murid yang bersekolah di SLB ABCD Caringin sudah ada 40 siswa mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA. Tatang yang lulusan Antropologi Universitas Padjadjaran ini menceritakan SLB ABCD Caringin ini mulanya menggunakan rumahnya sebagi tempat belajar mengajar. Semuanya dimulai dari keresahan Tatang yang melihat anak-anak penyintas disabilitas harus menempuh perjalanan cukup jauh ke arah utara (Jalan Pajajaran) untuk bersekolah.

"Jadi ini (sekolah) dulunya rumah biasa, rumah saya. Ketika jaman kuliah di lingkungan Kecamatan Babakan Ciparay ini belum ada sekolah. Tahun 2003 waktu itu sekolah anak-anak itu harus ke utara ke Jalan Pajajaran," ungkapnya.

Sejak itu, Tatang berinisiatif untuk membuat sekolah dan berdiskusi dengan (alm) kakaknya. Kakaknya pun akhirnya mengiklaskan rumah tersebut dijadikan sekolah.
Dilansir dari Tribun Jabar, saat ini di sekolah tersebut terdapat 11 ruang belajar yang dulunya bekas kamar. Di lantai dua sekolah ini terdapat satu ruang serbaguna dan satu ruangan yang belum jadi yang niatnya ingin dijadikan asrama bagi murid-murid kurang mampu yang bersekolah disini. Namun 16 tahun berlalu, rencana tersebut belum terealisasi karena terbentur biaya.

Tatang menjelaskan, sekolah ini tidak mematok biaya spp bagi para muridnya. Mereka membayar sesuai kemampuannya. Bahkan bagi yang tidak mampu, biaya pendidikannya digratiskan.

Biaya operasional sekolah ini hanya dihasilkan dari dana BOS. Sebagian dari dana itu digunakan untuk honor sukarelawan juga ditambah dari uang patungan.

Sekolah ini memiliki 13 guru, lima PNS dan delapan guru sukarelawan termasuk Tatang yang masih sebagai guru honorer.

"Guru ada 13 , 5 PNS dan 8 sukarelawan, saya juga masih honor, usia saya padahal sudah 50 tahun," ujar Tatang.
Previous
Next Post »